Minggu, 15 November 2015

Ga' terasa ada notifikasi dari web domain berbayar yang saya gunakan untuk blog saya ini. artinya sadah 2 tahun saya menggunakan alamat website www.lessouvenirs-indonesia.com ini. Tiba-tiba pengen menulis sesuatu di blog ini. Saya sebenarnya bukan seseorang yang suka menulis atau membaca, buku catatan saya sejak SD, SMP, SMA, Kuliah bahkan kerja bukanlah buku catatan yang baik, saat SD dan SMP buku catatan saya amburadul campur-campur (1 buku beberapa mata pelajaran bahkan multifungsi jadi buku gambar di bagian belakang), kalau SMA, S1 dan S2 bisa dikatakan saya sangat irit menggunakan buku (bisa dibilang mungkin 1 tahun cuma 1 buku campur semua mata pelajaran/ kuliah+jadi buku gambar), kalau saat kerja nyaris saya tidak menggunakan buku catatan sama sekali, mungkin dalam 5 tahun hanya berapa lembar saya pakai untuk mencatat. Itu cukup membuktikan bahwa saya bukan penulis yang baik, begitu juga dengan membaca... Dari SD sampai kuliah saya tidak jauh-jauh dari perpustakaan, baik SD, SMP, SMA, maupun Kuliah saya tidak jauh-jauh dari perpustakaan, ini serius, bukan karena suka membaca, tapi memang saya suka perpustakaan dan suka buku, tapi tidak berarti saya suka membaca.

Entah mengapa tanpa disadari atau tidak, saya suka perpustakaan dan berhubungan dengan buku-buku. Dari SD, di dekat rumah saya ada Perpustakaan Nasional daerah milik pemda, benar-benar dekat, hampir sebagian waktu bermain saya ada di perpus. Disana sepi, hanya ada petugas perpustakaan yang juga menjadi penjaga perpustakaan, saya sangat akrab dengan petugas perpus, di perpustakaan saya sering beristirahat, dan sering juga membuka buku, banyak buku yang saya buka namun untuk melihat gambar-gambarnya saja, buku yang saya lihat juga beragam, sangat banyak. Setelah masuk SLTP (SMP), berbeda di SD saya yang tidak punya Perpustakaan, di SLTP saya yang merupakan SLTP favorit memiliki gedung perpustakaan yang cukup besar dan lengkap, tanpa dikomando saya pun senang main ke perpustakaan, tidak tau kenapa seperti ada magnet saya suka ke perpustakaan dan suka dengan buku namun tidak untuk membaca. Di perpustakaan SLTP saya pun senang main kesana, melihat-lihat buku-buku ilmiah alam, biologi, dll yang umumnya bergambar, kadang pula sering membantu petugas disana, itulah keseharian saya saat jam istirahat tiba, yang biasanya anak lain ke kantin sekolah tapi saya ke perpustakaan, aktifitas yang tidak mengeluarkan uang sama sekali :). Beranjak SLTA (SMA) kebetulan waktu kelas tiga (III) kelas saya bersebelahan dengan perpustakaan, jadi ke perpus itu tinggal meluncur saja, lebih tepatnya tujuan ke perpus karena ikut-ikutan teman ke perpus dan disana kita belajar (terus terang kalau di kelas sangat berisik/ ribut- termasuk saya merupakan biang keributan di kelas), jadi kalau mau belajar pelajaran dengan tenang, tinggal pindah ke perpustakaan.

Tapi yang menarik dari cerita perpustakaan adalah saat saya kuliah S1, menjadi Abnon Jagpus (Abang None Jaga Perpus) merupakan kebanggan tersendiri, menjadi mahasiswa yang diperbantukan untuk menjaga perpustakaan fakultas itu sangat membanggakan saya, karena bisa "menghasilkan" uang juga. Saya kerja di perpus kalau tidak salah dari semester tiga hingga lulus setelah semester 7. Banyak pengalaman berharga disana, banyak teman juga yang jaga perpus, berasa seperti pekerja benaran, pekerjaannya sangat dekat dengan buku-buku, pekerjaan kita mulai dari mengatur penyimpanan tas, registrasi buku, peminjaman/ pengembalian buku, merapikan buku, dll. Bahkan data-data yang tidak bisa diakses dari mahasiswa biasa kita bisa dapatkan :), ya itulah keuntungan bekerja di Perpustakaan.

Setelah lulus skripsi dan menunggu wisuda dan pekerjaan, perjalanan saya menuju perpustakaan tidak sampai disitu, selama 2 mingguan saya intensif berada di perpustakaan Fakultas  Psikologi di kampus, tujuannya untuk lebih memahami dan mempelajari psikologi terutama psikologi kerja, kali ini ilmu itu harus didapatkan dengan membaca, saya tidak lagi mempelajari untuk menjawab test psikologi saat melamar kerja, tapi saya lebih ingin mempelajari psikologi lebih banyak, pilihan saya tepat, ternyata dalam test psikologi memang tidak ada jawaban benar atau salah, namun apakah sesuai atau tidak sesuai untuk posisi yang kita lamar.

Sewaktu bekerja menjadi karyawan normal pada umumnya + jadi mahasiswa juga, disitu saya pernah mengalami penurunan motivasi, bahkan saya pun curhat kepada bos besar saya waktu itu, lalu dia memberikan satu jawaban yang sederhana untuk obat saya, dia menyarankan bahwa obat saya kali ini adalah membaca, bacalah... Resep itupun saya ambil dan saya tebus gratis di toko buku, ya gratis alias tidak membayar, untungnya di kota yang saya tinggali itu terdapat sebuah toko buku ternama yang memiliki stok buku untuk dibaca gratis, tempatnya nyaman ada musik yang sangat menenangkan, ditambah lagi saya membaca sebuah buku novel yang menurut saya sangat bagus, bukan buku motivasi-motivasi kerja, tapi buku cerita yang sangat inspiratif buat saya, dan saat itu saya sangat merasakan manfaat membaca, tidak hanya bisa menambah ilmu bahkan bisa mengobati motivasi kita. Sebenarnya menulis juga tidak berbeda dengan membaca, menulis juga bisa menjadi suatu sarana mengobati hati kita, lihat orang yang tidak bisa curhat dengan orang lain maka dia bisa curhat dalam bukunya, bahkan ada seorang pesohor negeri ini yang diberikan resep oleh dokternya yaitu dia harus menulis, alhasil tulisannya menjadi obatnya, bahkan bisa menjadi novel yang menginspirasi orang lain bahkan difilmkan menjadi salah satu film terlaris di negeri ini. Sangat luar biasa kekuatan dalam aktifitas membaca dan menulis tersebut.

Saya memang bukan kutu buku yang sepanjang waktu banyak membunuh waktunya untuk membaca buku, namun bisa dibilang hidup saya juga tidak jauh dari buku atau perpustakaan. Saya juga bukan penulis atau pencatat yang baik dan rajin, tapi saya juga tidak bisa menghindari diri saya untuk menulis termasuk menulis tulisan blog ini, bisa untuk mengobati kepenatan atau lebih tepatnya untuk mengenang apa yang pernah saya lakukan masa lalu, melawan lupa, dan lebih mengenal diri kita sendiri.



Rabu, 29 Juli 2015

Pada akhir tahun 2014 saya sangat iri dengan beberapa orang yang saya tau bahwa mereka banyak berpergian ke Luar Negeri gratis, ya gratis karena dibayarkan oleh sponsor dari usaha yang mereka lakukan, katakanlah usaha yang mereka lakukan adalah fokus pada dunia Pramuka, maka sponsornya adalah pramuka, ada yang fokus pada usaha fashion maka usahanya lah yang memberangkatkan dan ada banyak lagi bahkan saat dulu masih sempat ikut seminar mengenai "Tempe", sang pembicara berujar bahwa karena tempe saya banyak diundang keliling Dunia. Memang bukan omong kosong, saat saya berada di Bali saya bertemu beliau di bandara mau pulang juga dari seminar dan saat saya pulang kampung di Belitung saya pun lihat foto belau dalam spanduk baliho besar sebagai pembicara seminar.

Sejak itu, keinginan untuk jalan-jalan ke luar negeri dari hasil usaha kecil saya ini semakin tinggi. Sebenarnya sudah berapa kali pergi ke negara-negara tetangga untuk liburan, tapi pakai uang gaji, dan kalau jalan-jalan ke luar negeri dari hasil usaha kecil itu rasanya suatu pencapaian yang WAHHH. Mungkin ini sama konsepnya dengan Pak Renald Kasali kepada anak didiknya, pada suatu kesempatan pernah ikut seminar beliau, beliau "MEWAJIBKAN" mahasiswa didiknya untuk keluar negeri dari hasil usaha/ project, tidak perduli apakah mahasiswa tersebut berlatar belakang anak petani biasa ataupun dari orang yang kurang mampu. Alhasil semua peserta didiknya bisa melakukan perjalanan keluar negeri dari hasil usaha/ project mereka.

Bermula dari istri yang melihat-lihat informasi negara Singapura dari HPnya, saya mulai mengajak istri untuk membuat suatu target dan tantangan, saya mengajak istri untuk membantu membungkus pesanan apabila saya sedang bekerja di luar kota, goalnya adalah hasil keuntungan penjualan barang tersebut akan digunakan untuk jalan-jalan ke Singapura, gayung bersambut, istri setuju. Yes!!! Memang sebelum kesepakatan tersebut, saya menangai semua usaha saya sendiri, baik untuk souvenir dan penjualan display toko, jadi saat saya 2 minggu libur kerja saya melayani pesanan namun saat bekerja 2 minggu di luar kota maka penjualan display saya tutup . Kali ini sumber dana untuk jalan-jalan digunakan dari hasil penjualan display saja :).

Aga' terkejut, semenjak kesepakatan tersebut dibuat mulai tanggal 9 Februari 2015, orderannya meningkat pelan tapi pasti, jadi bisa dibilang percepatan  bukan lagi kecepatan. Tidak sampai 3 bulan ternyata hasilnya sudah bisa digunakan untuk tiket pewasat PP untuk sekeluarga dan Hotel murah di Singapura 2 malam. Kami memutuskan pengumpulan dana hanya sampai bulan ke-4, dana tersebut sudah cukup untuk semua akomodasi dan oleh-oleh untuk jalan-jualan. Sebelum kesepakatan itu, penjualan saya bisa dibilang iseng dan tidak setiap hari ada yang beli, sangat berbeda dengan sekarang.

Ternyata saya sudah buktikan tantangan dari diri saya sendiri muncul dari iri hati saya ditambah inspirasi dari Pak Renald Kasali, mungkin iri itu buruk, tapi ternyata iri itu buruk bagi orang yang berperilaku buruk, bagi pengusaha iri itu sebagai motivasi untuk lebih baik. Satu lagi yang paling penting, dukungan istri itu sangat bisa mengubah usaha kita menjadi jauh lebih baik.

Meskipun masih berapa bulan lagi baru berangkat jalan-jalan ke Singapura setelah istri wisuda pasca sarjana, tapi ada rasa kebanggaan tersendiri bahwa tiket dan hotel yang kami beli itu dari "Les Souvenirs". Thanks Les Souvenirs.. Sekalian nanti adalah tahun ke 2 usaha nya Les Souvenirs di bulan September. Senangnya :)


Keluarga Kecil Saya :)

Sabtu, 30 Mei 2015

Terkadang kagum dengan teman-teman SMA dikampung dulu, kalau diidentifikasi satu-persatu ternyata saya bukanlahapa-apa dibandingkan dengan teman-teman seangkatan di SMA Negeri 1 Tanjungpandan dulu, tapi minimal bisa survive hidup :).

Kalau dihitung-hitung, sangat banyak di antara kita yang sudah lulus S2 saat ini, beberapa orang-orang hebat di mereka ada juga banyak yang menjadi dokter, pengusaha, pendiri perusahaan/ yayasan, karyawan bank atau bekerja di perusahaan internasional, berkeliling Indonesia bahkan mancanegara, Bahkan ada yang menjadi calon astronot pertama orang Indonesia. Hebat-hebat semua. Padahal kami dari sekolah yang jauh dari pusat pembangunan. Namun satu kebanggaan kami, sekolah kami merupakan sekolah terbaik di kota pulau kami, Belitung atau yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan pulau Belitong, dipopulerkan oleh Andrea Hirata dalam novel Laskar Pelangi, ya itu juga kebanggan kami dan mungkin sedikit banyak ketenaran novel Laskar Pelangi juga mempengaruhi semangat kami.


Pasti banyak yang telah terjadi sehingga mereka mencapai titik seperti sekarang ini, dan itu tentu tidak dicapai dengan mudah. Tapi tidak terasa ternyata sudah 9 tahun berlalu setelah kami lulus SMA, masih ingat dibayangan saya perjuangan kami dulu setelah lulus SMA.

Saya masih ingat waktu kami lulus dulu, kami terbagi menjadi beberapa kelompok, ada yang kelompok yang tinggal di Belitung dan mengikuti seleksi Polisi, ada yang ke Semarang dengan tujuan menjadi Taruna di maritim dan ada juga yang kuliah, tapi sebagian besar kami menuju Bandung, Jakarta, dan Yogyakarta. Kelompok Jakarta umumnya adalah keturunan Tionghoa yang ingin mengenyam pendidikan di Universitas Swasta, sedangkan kami yang di Bandung mengejar Universitas Negeri. Kelompok Bandung merupakan kelompok paling besar mengingat waktu itu terjadi bencana Gempa Bumi di Yogyakarta sehingga membuat peminatnya lebih sedikit. Dan saya dulu ikut kelompok Bandung, kebanyakan di antara kami ke Bandung untuk ikut bimbel namun sebagian lagi hanya ikut-ikutan, termasuk saya (mungkin cuma saya ikut-ikutan ga' ikut Bimbel). Selama tinggal disana untuk beberapa bulan, kegiatan saya jalan-jalan, belakar, ikut-ikut try out dari kakak-kakak angkatan dari Belitung, dan tujuan terpenting saya adalah mencari informasi perguruan tinggi negeri.

Waktu saringan masuk perguruan tinggi negeri sudah tiba, tidak sedikit dari kami yang ikut ujian di Bandung, namun ada beberapa yang malah mengambil pilihan universitas di luar kota Bandung untuk antisipasi jika tidak lulus pada Sekolah Tinggi Favorit di Bandung (umumnya pilihan pertama umumnya adalah ITB & UPI, pilihan ke dua adalah univ. negeri di luar bandung), ada yang memilih ke Semarang, Yogyakarta, Jakarta, Bogor, Sumatera, dll, dan saya pun di antara mereka, pilihan pertama saya adalah universitas di Depok dan pilihan ke dua adalah di Palembang. Sebenarnya pilihan pertama saya adalah universitas di Palembang yaitu dokter gigi, tapi karena passing grade nya masih di bawah universitas di Depok, saya tempatkan pilihan pertama saya berdasarkan passing grade, lagi pula dulu abang saya pernah juga tinggal di Depok.

Ujian tersebut merupakan ukuran dari hasil usaha kami selama merantau setelah SMA, hasilnya akan menentukan jalan masa depan kami. Setelah ujian tersebutpun kami berbondong-bondong pulang ke Belitung sambil menunggu hasil ujiannya. Sebagian kami lulus namun sebagian dari kami belum bisa lulus dan masih harus berjuang mencari tempat kuliahnya. Meskipun kami lulus ujian sama-sama di Bandung, ternyata tidak sedikit dari kami yang meninggalkan Bandung, segala perjuangan di Bandung bersama teman-teman termasuk hal yang seru, tapi pada akhirnya kami pun harus berjuang masing-masing di tempat baru kami untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi.
Sebenarnya telat untuk posting masalah Kelas Inspirasi ini. Kali ini saya berkapasitas bukan sebagai pengrajin souvenir atau entrepreneur melainkan "menjual" pekerjaan formal saya sebagai Safety Engineer di perusahaan oil & gas kepada anak-anak SD di Depok, tepatnya SDN Tanah Baru 3, Depok.

Terinspirasi dari mantan bos di tempat kerja yang dulu, dia adalah salah satu insinyur dari perguruan tinggi negeri di Jogjakarta, sama-sama anak tentara, beliau memiliki semangat dan filosofi hidup yang mantap, jadi saat masih jadi bawahannya, ada beberapa lapis atasan saya namun seringnya saya ngobrol langsung dengan beliau dengan cara mencuri waktunya, singkat kata kalau sudah ngobrol sama dia 5 menit saja rasanya masalah sudah bisa closed. Suatu waktu dia juga bercerita tentang masa mudanya, setelah lulus kuliah beliau tidak langsung bekerja pada perusahaan, namun beliau mengabdi sebagai guru. Mungkin tidak sedikit yang setelah lulus kuliah lalu menjadi guru, namun yang menginspirasi saya adalah alasan menjadi guru karena untuk melunasi hutang. Bukan utang piutang uang namun utang piutang terhadap tridarma perguruan tinggi yang salah satunya adalah pengabdian masyarakat. Terutama bagi alumni perguruan tinggi negeri itu wajib hukumnya karena uang kuliah kita disubsidi dari rakyat maka satu-satunya cara untuk melunasinya yaitu pengabdian masyarakat, ada banyak bentuk pengabdian masyarakat, namun yang beliau lakukan yaitu dengan cara mengajar, namun jangan pikirkan uang, karena kalau sudah menyangkut uang bukan ngabdi namanya, jikapun dari pengabdian kita mendapatkan uang maka itu adalah berkah bukan upah/ gaji (layaknya seorang abdi dalem).

Kalau dihitung-hitung ternyata sudah hampir 5 tahun saya lulus dari gelar Sarjana. Alhamdulillah tidak sengaja berselancar di dunia internet dan melihat pengumuman akan diadakan Kelas Inspirasi Gelombang 2 daerah Depok, lihat jadwal kerja dan ternyata sedang OFF, langsung daftar, kapan lagi bisa lunasin hutang, udah hampir 5 tahun nih. Akhirnya dapat juga kesempatannya.

Kelas inspirasi ini sebenarnya dimaksudkan untuk menginspirasi adek-adek yang duduk di bangku SD, kami dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari berbagai profesi, kalau di kelompok saya dulu kalau ga' salah ada auditor pajak, pedagang, marketing, auditor SMK3, animator, dan saya sebagai safety engineer. Mungkin profesi yang bisa terbayang oleh anak-anak SD pedagang dan mungkin animator karena mereka sering nonton film kartun. Dari cita-cita anak-anak tersebut tidak ada yang menyebutkan salah satu dari profesi kami, umumnya cita-cita mereka adalah dokter, pramugari, TNI, Polisi, Pilot, koki, dan pekerjaan umum lainnya.

Terus terang, sampai saya lulus SMA pun saya tidak tau apa itu safety engineer, auditor, bahkan sulit membedakan marketing dan pedagang, rata-rata yang kami tau dulu contoh-contoh profesi adalah dokter, guru, perawat, musisi, polisi, dll. Kelas Inspirasi menurut saya merupakan media untuk menjembatani bahwa ternyata profesi yang ada di tempat kerja itu berangam tidak hanya dokter, artis, pilot, koki, dan sejenisnya. Setelah memperkenalkan profesi kami kepada anak-anak, maka tingkat selanjutnya yaitu menginspirasi mereka, bagaimana untuk bisa menjadi kami, intinya adalah pentingnya pendidikan dan kerja keras harus bisa ditanamkan kepada anak-anak generasi penerus karena tanpa pendidikan dan mental yang kuat maka seseorang akan sulit mencapai cita-citanya atau bisa berprofesi seperti kami.

Untuk mengkomunikasikan pesan mengenai siapa kami, apa profesi kami, dimana kami bekerja, bagaimana cara menjadi kami, dan menginspirasi anak SD kelas 1-VI tidaklah mudah. Bahkan mau tidak mau kami harus mengganti strategi pengajaran kami di setiap kelas, jadinya gaya kam mengajar disetiap kelas itu berbeda beda, suatu contoh untuk kelas I dimana kita baru masuk ada anak yang nangis, ada yang pengen pulang, ada yang keluar masuk kelas, yang ribut dan cari perhatian guru maka metode yang bisa kita gunakan bisa dengan cara bermain, menggambar dan bernyanyi, hanya tiga hal tersebut yang bisa dilakukan, kalau diceramahin atau dijelasin mengenai profesi kami dengan bahasa sederhana saja sepertinya anak-anak tersebut bukannya mengantuk namun mereka mungkin bisa stress. Sangat berbeda dengan anak SD kelas 6, dimana mereka lebih serius dan mampu menerima materi kami secara sistematis.

Satu hal setelah kelas inspirasi ini selesai, saya sangat lega bisa membayar hutang saya untuk pengabdian masyarakat, meskipun sebenarnya pengabdian masyarakat tidak boleh terputus, tapi minimal sudah dilakukan :). Saat melihat anak-anak SD waktu itu, pastinya kita akan teringat masa lalu kita sewaktu sekolah dulu, namun kenyataannya zaman anak SD sekarang sangat berbeda dengan zaman saya dulu, anak sekarang lebih manja dan dimanja. Dahulu saya bersekolah di kampung, berangkat sendiri tidak diantar jemput ortu, menanam bersama guru, kerja bakti, pulang sekolah main-main ke hutan, mancing, dll, tidak ada beban dan terbayang mau jadi apa nanti jika besar, hanya orang-orang dewasa yang selalu bertanya apa cita-cita kami, namun memang kami tidak tau bagaimana cara mencapai cita-cita tersebut karena terus terang memang sebagai anak-anak sebaiknya menikmati bagaimana bisa menjalankan masa anak-anaknya dengan senang.

Mungkin anak-anak melihat kami dengan profesi yang "asing/ abstrak" sebenarnya bisa membuat mereka bingung. Tapi sudahlah, yang penting kami sudah menanamkan semangat untuk terus mencapai pendidikan tinggi dan terus semangat. Mudah-mudahan apa yang kami tanam ada yang menginspirasi mereka untuk menjadi orang-orang yang sukses jauh melibihi kami.





Sabtu, 14 Maret 2015

Sebagai crafter sebenarnya strategi pemasaran yang saya mainkan mungkin belum optimal, tapi mungkin untuk saat ini masih bisa diterima mengingat situasi modal, SDM dan teknologi yang saya punya belum mampu untuk penetrasi ke pasar yang lebih luas. Bisa dibilang umur usaha saya ini masih baru, 1,5 tahun, lebih tua setengah tahun dari usia anak saya yang tepat hari ini berulang tahun yang pertama kali. Merasa usaha masih sangat muda dan belum optimal karena melihat usaha atau omset-omset pengusaha muda dan terkenal mampu memperoleh omset 50juta-miliyard-an rupiah setiap bulannya, ada rasa penasaran, kapan giliran saya seperti mereka, kalau menyusul sukses seperti mereka pasti bisa, hanya masalah waktu. Ya, kuncinya di waktu, bisa tahun ini, bisa tahun depan, 10 tahun lagi atau saat usaha kita diteruskan oleh anak cucu kita, tapi optimis itu harus ada bahwa setiap usaha apapun yang kita rintis dengan tekun, jujur, dan mau berbenah diri maka ujungnya  pasti..pasti sukses.



Untuk meningkatkan usaha/ mengembangkan usaha tidak serta merta harus kita lakukan, perhitungan-perhitungan yang matang harus dilakukan, dengan analogi kita bisa saja menambah petak sawah untuk menanam padi dengan harapan kita dapat keuntungan dua kali lipat dari hasil yang kita peroleh dibandingkan jika hanya menanam padi dalam satu petak padahal menambah petak sawah sama saja kita menambah ongkos sewa/ beli lahan, tenaga untuk mengerjakan sawahnya, ongkos bibit, pupuk, pembasmi hama, dan lain-lain. Tidak sedikit kegagalan terjadi karena usaha baru/ lama tidak terurus karena memang belum waktunya untuk menambah/ memperluas usaha, tapi banyak juga yang berani-beraninya usaha baru 1-2 tahun sudah mewaralabakan usahanya ke orang lain dengan tujuan dapat untuk dari jual waralaba, merketnya tambah luas, yang ngerjain juga orang lain, praktik seperti ini sebenarnya tidak dibenarkan karena sama saja kita memberikan jebakan Batman pada mitra kita, sudah banyak waralaba seperti itu yang dulunya menjamur tapi sekarang tinggal gerobaknya saja.

Bukan berarti saya anti waralaba, jika memang kita baru merintis usaha 1-2 tahun dan usahanya laris manis, terus saja lakukan itu sampai tahun ke 5, jika sudah lulus dalam 5 tahun dan terbukti usaha kita maju, baru bisa kita waralabakan usaha kita, jika belum 5 tahun, cobalah fokus dan optimalkan usaha kita punya dan jika memang sudah benar-benar sanggup untuk memperluas pasar, bukalah cabang dengan studi terlebih dahulu.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan meningkatkan usaha yang baru dirintis dengan cepat, namun tentu konsekuensinya juga ada, kuncinya adalah waktu, waktulah yang akan membuat kita matang, sama halnya mengapa sekolah dasar itu enam (6) tahun, SMP dan SMA masing-masing tiga (3) tahun tidak bisa dari SD langsung SMA, meskipun mereka super jenius pun, sangat tidak disarankan untuk memotong waktu secara ekstrim, 1 tahun SD langsung lulus ke SMP, lalu SMP setahun dan SMA satu tahun lalu langsung dapat S3 honorarium, Mungkin ada yang bisa mendapatkan gelar sarjana meski masih kecil, namun apakah mereka sanggup dihadapkan dengan masalah yang nyata? Pengusaha yang mulai dari 0 akan lebih kuat daripada pengusaha yang mulai dari warisan atau hayalan besar. Pengusaha artinya orang yang teruji, bukan orang yang besar/ terkenal.

Dua kunci cara meningkatkan usaha yang baru dirintis: Inovasi & Kompetitif. Jangan terburu-buru untuk mengeksekusi pengembangan usaha (Business Development), gunakan waktu yang panjang untuk menyusun rencana pengembangan usaha, eksekusi itu mudah jika semua rencana, modal, SDM, waktu dinilai cukup. Lakukan inovasi-inovasi hingga tercipta produk/ jasa yang kita nilai optimal, yakinlah setelah kita menciptakan suatu kualitas produk/ jasa yang inovatif, tidak perlu menunggu kita untuk membesarkan usaha kita, tapi usaha kita yang membesarkan kita. Sama halnya jiwa kompetitif, jika kita mau dan mampu untuk berkompetisi baik mutu, promosi harga, kecepatan, & pelayanan maka orderan pun akan membanjiri kita.


Namun saya sangat salut juga dengan pengusaha-pengusaha yang berfokus pada Business Opportunity atau peluang usaha, kebanyakan dari mereka tidak berfokus pada usaha apa yang mereka geluti, tapi mengikuti trend apa yang bisa menghasilkan uang, mereka akan terlibat pada produk/ jasa yang lagi trend lalu meninggalnya setelah trend produk/ jasa berganti misal saat lagi trand tanaman, mereka berbondong-bondong usaha tanaman hias, saat suatu produk kosmetik lagi trend, mereka juga pasti ada, saat bisnis properti lagi naik daunpun mereka eksis menjadi broker, saat batu akik booming pun mereka latah jualan batu akik, dan yang paling menggelikan adalah saat boobing suatu herbal/ produk kesehatan maka mereka tampaknya lebih ahli daripada dokter atau konsultan kesehatan. Orang-orang tersebut termasuk orang yang berbakat dan cerdik dalam melihat peluang, bagi pengusaha-pengusaha tidak berbakat sebaiknya jangan terlalu berinvestasi besar pada hal-hal yang sedang trend.

Rabu, 21 Januari 2015

Saat mengikuti suatu seminar suatu bisnis, sang fasilitator mengeluarkan satu statement yang sangat menyadarkan saya, betapa perlunya kita menghargai usaha yang kita bangun, jangan mengharapkan orang lain menghargai usaha kita jika kita saja tidak bisa menghargainya. Ya mengapa hal sesederhana begitu saja saya tidak pernah menyadarinya. Mengapa kita harus jual murah jika memang kita yakin kualitas kita baik, kita jual jasa, maka ukurannya adalah kualitas, bukan kuantitas. Bahkan suatu produk yang sama dijual di tempat yang berbeda-beda dengan harga yang berbeda-beda, namun mengapa ada tempat yang jual mahal pun, barangnya laris manis? Apakah kualitas produknya beda? harusnya sama karena keluar dari pabrik yang sama, lalu apa yang beda dan mengapa orang mau membelinya padahal tinggal usaha sedikit keliling-keliling pasar, barang yang sama dengan harga yang termurah bisa kita dapatkan.

 Produksi saya yang berharga :)

Begini, ada suatu cerita tentang suatu produk keripik pedas dari Bandung, konon resepnya dari seorang nenek, namun nasib nenek tersebut mungkin tidak sebaik anak muda yang meminta resepnya, terus terang saya tidak pernah beli itu keripik karena menurut saya harga sebungkus keripik singkok kok bisa semahal itu. Ya mungkin dia harus bagi-bagi untuk untuk karyawannya, distributor, agennya, dan kurir-kurir jasa ekspedisi untuk pengiriman barang hingga barang yang awalnya dari kebun di suatu desa entah berantah, lalu diambil untuk diproduksi di Bandung, dari Bandung ke kota-kota besar hingga sampai di suatu toko. Tapi terlepas dari itu hitung-hitungan saya tetap bilang "itu kemahalan". Ternyata saya memang benar, itu tetap mahal walaupun sudah dihitung harga bahan baku, produksi, distribusi + margin keagenan, tapi siapa sangka langkah dia adalah tepat. Dia menghargai produknya, mungkin inilah yang membedakan nasib si punya resep dan yang bisa menghargai usahanya. Contoh lainnya banyak, ada Bakmi dari Jogja yang sekarang outletnya ada dimana-mana dan harganya juga bukan tergolong murah. Adalagi cerita mengenai perintis air mineral kemasan di Indonesia, awalnya tidak ada yang menghargai produknya, namun ketika yang punya bisa menghargai jualannya, maka penjualannya pun melejit tinggi hingga sekarang kalau orang beli air mineral selalu menyebutkan nama produknya. Padahal kalau kita sadar, semua air mineral itu tawar, unsur utamanya sama-sama H2O, kandungan gizi/ mineralnya juga ga' signifikan.

Coba saya bisa menghargai usaha saya lebih tinggi, pasti orang lain juga menghargai usaha saya. Itu hal yang pasti jika kita bisa meyakinkan orang lain jika memang usaha/ produk kita memang berharga. Katakanlah pelukis, mungkin banyak hasil lukisan yang lebih bagus dari si A namun karya si A jauh lebih dihargai meskipun sebenarnya kalau dari orang awam melihat lukisan itu cuma corat- coret anak-anak SD. Ya itulah kekuatan jika kita menghargai produk/ jasa kita. Tapi bagaimana bisa kita menghargai produk/ jasa kita dengan mahal jika usaha kita untuk menghasilkan produk/ jasa itu hanya sekedarnya, tentu hal tersebut bertentangan dengan judul di atas, yang kita nilai bukan hasil produk/ jasa, tapi usaha. Lihat keripik tadi, lihat bakmi tadi, lihat air mineral dan lukisan tadi, mengapa mereka bisa dihargai lebih. Yups, jawabannya karena mereka menghargai usaha mereka sehingga mereka mengeluarkan usaha yang lebih untuk kepuasan pelanggan, perbaikan produk, konsistensi terhadap mutu, lalu mereka berani meyakinkan kepada konsumen dan customernya jika produknya berharga.

Sebelum saya menulis artikel ini, saya selalu berusaha keras dalam setiap apa yang saya usahakan, contohnya misalnya membuat usaha A, B, dan C. Tapi karena saya berpikir "hanya coba-coba", kalau sukses ya alhamdulilah dan kalau gagal ya memang nasib. Dan saat saya berusaha itu saya hanya memikirkan keekonomiannya, mungkin pengusaha baru seperti saya pun pernah memikirkan hal yang serupa, kita lihat market, cari segmen pasar, cari tau informasi supplier & kompetitor, lalu kita sesuaikan produk kita dengan maunya pasar, kalau di kawasan mahasiswa harganya harus terjangkau, kalau misalnya harga pasaran segini maka harga produk kita harus lebih murah sedikit biar ga' kalah sama saingan, dan sebagai-sebagainya. Tapi lihatlah konsep seperti itu mungkin masih zaman untuk bertahan hidup, tapi untuk bertumbuh tidak bisa, perlu waktu yang lama dan manajemen arus modal yang baik, salah sedikit bisa fatal. Nah disitulah kesalahan terbesar saya, mulai dari niat saya sudah coba-coba, sewaktu usaha hanya memikirkan produk yang terjangkau, setelah produk jadi pun saya jual lebih murah daripada harga pasaran, dan ketika saya jualan pun rasanya masih malu-malu jika produk kita ini bagus, maka hasil yang saya dapatkan juga akan berakhir sama seperti niat saya, kemungkinan gagal sangat besar. Coba jika saya lebih menghargai usaha saya, dari awal memang niatnya memang serius untuk sukses, memproduksi produk yang memang tujuannya berkualitas, dan bisa meyakinkan produk yang saya hasilkan adalah berharga, maka nasib usaha saya pasti lebih terangkat.

Yang bisa menghargai usaha kita adalah kita sendiri, bukan dari orang lain, orang lain bisa saja menghargai produk/ jasa kita, tapi yakinlah produk/ jasa kita hanya bisa besar dengan usaha kita, bukan dengan besar kepala kita karena penghargaan-penghargaan dari orang lain.

Sabtu, 08 November 2014



Display Matahari 3 Tingkat
- Harga Rp. 90.000/ ea
- Harga grosir : 85.000 = min 3pcs
- Berat : 1,2kg (1kg)
Dapat bongkar pasang
; diatur jaraknya
Beli
Daun Bracket Kaca 
-Harga Rp. 12.500/ ea
- Bahan : Besi lapis crome
- Ukuran 25 cm ; 30cm
- Min order 4pcs
Beli


Rel/ Tiang Bracket 1 m

- Harga Rp. 12.500/ ea

- Bahan : Besi lapis crome
Min Order 2ea
Beli
Rak Bracket Kaca 3 Tingkat 
- Harga : 96.000/ Paket
- Terdiri dari: 2 tiang bracket
+ 6 daun bracket kaca
Tidak termasuk kaca, baut/ paku
Berat 2kg/ paket
Beli


Rak Bracket Kaca 4 Tingkat 
- Harga : 120.000/ paket
- Terdiri dari: 2 tiang bracket
+ 8 daun bracket kaca 25cm/ 30cm

Tidak termasuk kaca, baut/ paku
Beli

- Cantolan Hanger 15cm 
- Harga Rp. 4.500/pcs

- Lusinan : Rp. 48.000/12pcs
- Bahan: Besi chrome (import)
- Berat 80gr/ pcs
Beli



Suling Bracket Lokal 12P, 9P, 6P
- Harga : 18.000; 16.500, 15.000/ Pcs
- Terdiri dari: 12, 9, & 6 sekat

Tidak termasuk  baut/ paku
Berat 250gr/pcs
Beli
- Hanger Jilbab Ring
- Harga Rp. 39.000/pc
-Grosir Rp. 37.500/pcs min 20pcs
- Warna: Kuning, Merah, Orange, Hijau, Biru, Kombinasi
- Berat 350gr/ pcs
-Tidak termasuk plastik display
Beli




Trolley Lipat

- Harga : 135.000/ Pcs
- Bisa dilipat,

sudah termasuk tali pengaman
Berat 2kg
Beli


- Hanger Kayu Import Natural
- Harga Rp. 7.500/pcs min 1lusin
-Eceran 8.000/ pcs

Beli





Rak Bracket Kayu 3tkt
- Harga : 120.000/ Pcs
- Bahan Chrome
Tdk termasuk papan & paku
Berat 2kg
Beli


- Rak Gawang 1m
-Bisa di lipat
-Harga 135.000/ pcs

Beli




Translate

Categories

Cintailah Produk Indonesia

Cintailah Produk Indonesia

Mengenai Saya

Foto saya
Berawal dari produsen souvenir gunting kuku
Les Souvenirs Indonesia. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Recent Posts