Rabu, 10 September 2014



Berawal dari ketertarikan saya dengan bisnis, karena basic saya adalah safety, jadi walaupun terkadang saya orangnya menggebu-gebu dan coba untuk ambil risiko, namun tetap saja risikonya harus dihitung dahulu supaya tidak rugi ataupun bangkrut, ya jadinya kalaupun mandek atau jatuh, ya jatuhnya ga’ sakit-sakit bangetlah bahkan ga’ sampai bangkrut. Bisnis itu penuh risiko, jadi jangan pernah mempertaruhkan semuanya pada bisnis, karena kita masih perlu untuk hal selain bisnis atau perlu untuk mencoba bisnis yang baru. Banyak yang berpandangan kalau kita punya uang 10juta, sebenarnya kita hanya boleh menggunakan uang 3juta untuk modal bisnis, atau kalau mau mentok-mentok kita hanya boleh pergunakan uang tersebut untuk usaha sebesar 5juta. Pandangan tersebut sangat beralasan, karena pada umumnya usaha di awal-awal masih mencari pola yang pas untuk mengelola usahanya dan arus modal juga mungkin tersendat.


Nah, sekarang kita mulai pada ide pokok yang ingin saya sampaikan, kejahatan digital. Menurut Sam Graves, pemimpin House Subcommittee on Small Business mengatakan pada tahun 2013, 60% bisnis kecil bangkrut setelah terkena kejahatan digital. 60% bukanlah angka yang sedikit, dari angka tersebut saya coba mentelaah dan mengartikan artinya. Logika pertama: 60 dari 100 pembisnis kecil yang bangkut merupakan korban dari kejahatan digital. Logika kedua: dari 100 kejahatan digital yang berhasil mengakibatkan 60 pembisnis kecil bangkrut. Pertanyaan logisnya adalah, kok bisa banyak pembisnis kecil rentan menjadi korban kejahatan digital dan kok betapa rapuhnya atau mudahnya pembisnis kecil bangkrut karena kejahatan digital. Mari kita bahas:

Bisnis Kecil Rentan jadi Korban Kejahatan Digital
Balik lagi dari pembicaraan awal kita, pada umumnya pengusaha kecil berupaya memperbesar usahanya dan pada umumnya pengusaha kecil berasal dari pengusaha pemula. Cukup dengan dua alasan itu menjadikan pengusaha kecil dan atau pengusaha pemula banyak yang berani ambil risiko besar tanpa memikirkan keselamatan uang atau modalnya, inilah yang menjadikan pelaku kejahatan digital banyak yang mengintai pengusaha kecil dan atau pemula, atau sebaliknya banyak pembisnis kecil yang tergiur dengan iklan atau bujukan pelaku kejahatan digital.
Memang selain dua alasan tadi juga ada penyebab lainnya misalnya karena sistem  keamanan digital atau keamanan uang pengusaha kecil atau pemula tidak secanggih pengusaha besar, karena pengusaha kecil cenderung berinvestasi pada pokok usahanya bukan pada penunjang usahanya, contohnya pengusaha kecil makanan lebih banyak berinvestasi pada hal-hal produksi seperti gerobak, mesin, bahan baku, dan sebagainya, namun belum banyak menyentuh investasi contohnya mempekerjakan bisnis analis, server untuk security IT, SAP atau Orical bahkan untuk hal legalitas atau perizinan.

Bisnis Kecil Rapuh Karena Kejahatan Digital
Masih membahas kaitannya dengan pembicaraan awal kita, seharusnya walaupun terkena kejahatan digital, kita masih bisa bertahan dan tidak bangkrut. Namun pertanyaannya mengapa pembisnis kecil banyak yang bangkrut setelah menjadi korban kejahatan digital. Menurut analisis saya ternyata banyak hal yang menyebabkan hal tersebut terjadi, termasuk berdasarkan pengalaman saya juga juga (tapi saya tidak bangkrut J ). Namun secara general saya kerucutkan menjadi dua saja:
Masalah Cash Flow
David Goldin, CEO dan presiden AmeriMerchant mengatakan masalah pembiayaan selalu menjadi alasan pertama seseorang gagal memulai usaha. Sebanyak 37% dari pengusaha berpengalaman juga jatuh karena kehabisan uang untuk membiayai bisnis mereka. Bayangkan jika kita terkena kejahatan digital yang mengakibatkan sebagian atau seluruh modal kita hilang, efek bagi pengusaha kecil akan berakibat pada aliran modal yang tersumbat, efek berantainya adalah produksi terkendala, uang yang harusnya beli modal namun kurang, atau untuk bayar karyawan juga terlambat, apalagi jika modalnya berasal dari utang, maka utangnya akan jatuh tempo dan masih banyak serangkaian efek domino dari masalah aliran modal yang terhambat ini. Aliran modal bagaikan aliran darah pada sistem tubuh manusia, jika tersumbat maka anggota tubuh lainnya akan kekurangan oksigen bahkan tekanan darahnya akan meningkat dan berefek pada kesehatan keseluruhan tubuh. Bagaimana cara mengatasinya, balik lagi tadi di awal kita membicarakan berapa idealnya uang yang kita keluarkan untuk modal bisnis, anggap saja kalau kita kehilangan seluruh modal kita akibat kejahatan digital maka kita akan mempunyai cadangan modal 50-70% dari uang awal kita. Namun jika belum apa-apa modal awal kita berasal dari utang, itu adalah musibah.

Mental Pengusaha yang Lemah
Kalau ini sih sudah jelas, kalau alasannya karena trauma dan memutuskan untuk bangkrut atau mengakhiri usahanya ya mau bagaimana lagi. Namanya juga pemula atau bisnis kecil, untuk tumbuh itu perlu ada ujiannya, dan ga’ semuanya lulus uji. Kalau pengusaha sejati kalau gagal ya bangkit lagi dan ikut ujian lagi.

Kesimpulan:
Kejahatan digital semakin marak terjadi dan banyak pengusaha kecil yang menjadi korban dan sebagian besar diantaranya berakhir pada kebangkrutan. Kejahatan digital di dunia maya/ digital sama halnya kecopetan di transportasi publik atau kecelakaan motor di jalan raya, peluang terjadinya besar entah karena pelakunya bertambah banyak atau kitanya kurang berhati-hati. Perhatikan risiko dalam bisnis, kita harus ambil risiko namun jangan pilih risiko untuk bangkrut, pilihlah risiko untuk untung, entah itu untung kecil atau untung besar, kalaupun rugi ya ruginya jangan rugi-rugi banget sampai kita bangkrut. Pengusaha itu orangnya teruji untuk bangkit dari kegagalan, kalau belum gagal dan bangkit lagi maka belum pantas disebut pengusaha yang teruji.

0 komentar:

Posting Komentar

Translate

Categories

Cintailah Produk Indonesia

Cintailah Produk Indonesia

Mengenai Saya

Foto saya
Berawal dari produsen souvenir gunting kuku
Les Souvenirs Indonesia. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Recent Posts