Jumat, 31 Oktober 2014


19 Oktober 2014 kita coba ikut stand di festival untuk pertama kalinya, namun ternyata Festival ini juga baru pertama kali diselenggarakan di Depok, namanya Netherland Festival atau Festival Belanda di Universitas Indonesia. Persiapannya saya sangat mepet karena baru pulang dari luar kota. Sewa stand disini tergolong mahal buat saya, aga' was-was sebenarnya karena biaya sewa satu (1) hari disini bisa untuk sewa warung satu (1) bulan. Untuk itu saya atur strategi untuk mencari mitra, entah itu mitra untuk sharing sewa tenda maupun mitra untuk barang dagangan khas Depok. Namun mitra yang dimaksud tidak tercapai kesepakatan akhirnya harus memutar otak untuk atur strategi, akhirnya kami memutuskan untuk membuat snack tradisional Belanda, Bitterballen, selain yang utamanya adalah menjual souvenir produk sendiri. Ini kali pertama membuat bitterballen, tapi ternyata mudah dan enak rasanya, variannya pun saya perbanyak tidak hanya rasa daging sapi, namun rencananya ada ikan, ayam, sayuran, sosis, telur puyuh, dan yang paling enak itu ekkadi bitterballen (ekkado yang dibentuk seperti bitterballen). Meski persiapannya beberapa hari, belanja, mempersiapkan bahan hingga masak pas malamnya dan bangun subuh ternyata ga' ke-handle sehingga masak atau menggorengnya langsung di tempat/ standnya, jadinya bener-bener fresh dari penggorengan.


Klompen Depok

Datang ke festival saya sudah terlambat karena jalan dekat rumah ditutup, ada meja yang harus diambil, terus belanja minuman botol alhasil sampai di Festival sudah jam 9 pagi. Sampai disana pengunjungnya Sepi.... Meski tergolong sepi, tapi jajanan souvenir dan snack saya ada saja yang dibeli, bahkan oleh orang Belanda dan Korea :).. Kata mereka enak, kata pengunjung lain juga enak (padahal ini kali pertama bikin bitterballen, bahkan baru tau ada makanan namanya Bitterballen. Hehehe. Begitu juga souvenir, ada yang sekedar foto-foto, dan ada juga yang beli terus minta nomor kontak. Komentar salah satu pembeli yang juga berprofesi sebagai Dosen di FIB UI menyatakan bahwa sangat sulit mencari souvenir khas Depok, bahkan rekan-rekannya dari mancanegara kesulitan untuk mencari souvenir khas Depok.

Bitterballen Fish & Beef

Haripun semakin sore, namun jika dibandingkan dengan Festival Jepang, Festival Belanda lebih sepi, acaranya juga tidak banyak, acara festival musik tidak terbuka (bayarnya lumayan) dan terpisah dengan stand, ciri khas Suasana Belandanya juga kurang ditonjolkan, serba komersil dan mahal termasuk sewa stand, dagangannya juga banyak yang umum dijual/ bukan khas Belanda (baju, sepatu, sosis, mendoan, nasi ayam, es krim, alat magic, dll), tidak ada acara closing atau acara puncak seperti kembang api atau sebagainya (acaranya flat). Alhasil pengunjung lebih sepi, stand banyak yang ga' balik modal dan tutup sebelum acara selesai.

 Kastengel Edam Asli Bikinan Istri, Enak dan Murah

Saran untuk Festival Belanda jika ingin buka lagi tahun depan, contohlah Festival Jepang di UI Depok, acaranya free bisa dinikmati oleh semua orang, acaranya beragam mulai dari cosplay, acara-acara dari orang jepangnya asli (bikin ramen, kue moci, angkat tandu, drum khas Jepang, dan masih banyak lagi), jadi rasanya kita ikut pasar malam di Jepang yang kita lihat di televisi/ film Doraemon, Pengunjungnya juga padet, jalan aja susah. stand-stand penuh, sampai-sampai pesen mie ramen hampir 30 menit baru kebagian dan terakhir ada pesta kembang apinya, gapuranya juga khas Jepang, semua tumpah ruah jadi kalau bayar standnya mahal juga ga' bakal rugi. Yah maklumlah, sama-sama baru pengalaman ikut Festival yang juga belum punya pengalaman.


0 komentar:

Posting Komentar

Translate

Categories

Cintailah Produk Indonesia

Cintailah Produk Indonesia

Mengenai Saya

Foto saya
Berawal dari produsen souvenir gunting kuku
Les Souvenirs Indonesia. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Recent Posts